Nama :Afiati Syarifah Nrp :H34100069 Laskar 9

Posted on September 16th, 2010 by afiati.syarifah10.
Categories: Academic.

Ini adalah cerita inspirasiku yang terinspirasi dari orang lain untuk menginspirasi yang lainnya.

Semoga Anda terinspirasi 😉 (hahaha) oleh cerita  yang sangat sederhana ini.

Jujur, sempat shok berat waktu disuruh nulis cerita inspirasi. Dua lagi. Bingung banget apa yang bisa membuat saya menginspirasi dan terinspirasi. Jadi saya merenung sejenak (baca:melamun) sebelum akhirnya bertekad menyelesaikan tugas MPKMB ini. Saya sadar kalo banyaak banget yang bisa menjadi bahan inspirasi bagi saya, padahal hanya sebatas hal hal sepele.

Seperti waktu itu.

Saat itu aku dan temen sekamarku yang notabene-nya juga temen sekelasku, tapi hanya di kelas besar aja, balik kuliah langsung ke bara buat cari makanan buka puasa. Saat itu sudah jam lima sore. Setelah numpang shalat Ashar  di Al-Amin, kita menelusuri jalanan Bara untuk cari makan. Sambil nyelip sana sini, kita membeli makanan di beberapa tempat. Saat itu sedang turun hujan yang untungnya tidak terlalu deras. Saya curiga petir Bogor dapat membuat orang menjadi seperti kebakaran jenggot (walaupun sebenarnya ga punya jenggot) karena kebanyakan orang memesan makanannya dengan brutal. Sambil setengah mendorong orang lain agar berada di posisi paling dekat dengan Sang Pedagang, mereka berteriak “Bu, cepetan dong bungkusinnya”;  “Saya duluan, Bu. Udah daritadi nih nunggunya”; “Yaah Bu, kan udah saya bilang  jangan dicampur es. Aduuh gimana sih” “Bu, ayam bakar satu.  Eh, ga pake kecap. Apa? Iya iya, eh jangan yang itu. Aduh lama banget bu, maaf ya ga jadi aja deh”; dan lain-lain-lain-lainnya. Sepertinya dalam kasus ini istilah `Pembeli adalah Raja` sudah gak berlaku deh, soalnya disini kamilah yang mendewakan para Pedagang agar dapat dilayani paling pertama.

Kebrutalan itu masih terus berlanjut di jalan pulang menuju Asrama. Masing-masing sibuk melindungi diri dari hujan sambil menenteng makanan yang sudah dibeli. Belum tiba di Asrama, Adzan Maghrib berkumandang. Terpaksa kami harus membatalkan puasa kami di jalan. Dan tidak sedikit orang yang melakukannya dengan cara brutal. Ada yang sampai menumpahkan jusnya karena riweuh, ada yang maraton sambil makan gorengan, bahkan ada yang marah ditinggalin temennya karena keasyikan minum es palu butung, lalu dia teriak-teriak sambil mengancam memukul teman yang meninggalkannya itu dengan palu sampai kepalanya buntung. Oke yang itu gak bener, kenyataannya dia cuma ditinggalkan setengah meter didepan temannya

Dalam keadaan seperti ini, kebanyakan orang hanya mementingkan dirinya, fokus mereka melemah pada lingkungan  apalagi untuk hal remeh. Sudah menjadi kebiasaanku memerhatikan peringai orang lain, karena seringkali hal ini dapat menghiburku atau sekedar membuatku tersenyum. Perhatianku tak lepas dari seseorang yang membuang sampah bekas jus (ya kau tahu, tempat seperti gelas aqua tapi ukurannya lebih besar) ke jalan. Dalam hati aku bergumam “haha namanya juga orang lagi buru-buru, mana sempet mikir kalo sampah-yang-dibuang-sembarangan itu yang seharusnya bisa di recycle, merupakan cikal bakal terjadinya banjir. Kalo sampahnya itu bisa digenangi air terus dijadiin tempat tinggal sama nyamuk DBD. Lalu saat nyamuknya menyerang, dia menyalahkan si nyamuk karena telah memberinya penyakit DBD sementara si nyamuk menyalahkan dia karna telah memberinya tempat tinggal.” Ya itu hanya menjadi gumaman kecil dalam hati (sengaja, biar gak kedengeran sama orangnya)

Sudut pandang memaksaku melihat kearah seseorang yang tengah berlari menghampiri si gadis-pembuang-sampah-sembarangan. Eh, tunggu, dia tidak menghampiri si gadis-pembuang-sampah-sembarangan melainkan mengambil gelas bekas jus yang telah dibuang ke jalan. Dengan santainya dia mengambil sampah itu dan membawanya ke tempat dimana seharusnya ia diletakan (baca:tong sampah)

Asli, aku kagum melihatnya. Membuatku  merenung sejenak. Saat tadi  melihat seseorang membuang sampah dijalan, aku hanya berfikir tanpa bertindak. Sedangkan dia, berlari dan membuangnya ke tong sampah. Saat orang lain hanya berfikir tentang kepentingannya – mungkin mereka berfikir tentang: pengen cepat-cepat  tiba di asrama, gimana caranya makan es cendol  tanpa sendok karena sendoknya udah keburu jatuh, ngeluhin hujan yang gak berenti-berenti padahal ga bawa payung, atau apapun itu yang tidak memikirkan Siapa Buang Apa Dimana Bagaimana Caranya – dia memerhatikan lingkungan.

Kejadian yang berlangsung beberapa menit itu menjadi inspirasiku untuk tidak egois dengan diri sendiri, dan tetap memerhatikan lingkungan. Tindakan membuang sampah sembarangan itu sangat sederhana tapi berhasil membuat ku ingin menirunya. Tidak perlu penyuluhan-penyuluhan tentang dampak membuang sampah sembarangan untuk membuat orang tidak membuang sampah sembarangan. Karena cara pertama untuk menyampaikan  kebaikan adalah dengan berbuat baik. J

0 comments.

cerita inspirasi

Posted on September 16th, 2010 by afiati.syarifah10.
Categories: Academic.

Nama  :Afiati Syarifah

Nrp     :H34100069

Laskar  9

Pria Ningrat Menjadi Penjual Koran

Panas matahari pagi itu begitu terik, seperti panas jam satu siang. Sinar mentari saat itu menyinari seluruh gedung Gunung Gede(GG) IPB termasuk siapupun yang berada disekitarnya. Terlihat mahasiswa-mahasiswi diploma IPB yang melintasi kampus dengan pakainnya yang rapi menutupi kepala dengan tangan atau buku umtuk menghalangi sinar mentari yang terik itu masuk ke retina mereka. Namun, Kakek tua yang melewati gedung GG  saat itu berbeda, ia berjalan tanpa menutupi sinar mentari yang memanskan rambut putihnya. Wajahnya tampak begitu tua dan keriput, pandangan matanya kosong dan kedua tangannya terlihat membawa setumpuk koran dan tabloid. Aku heran mengapa kakek setua itu dibiarkan bekerja menjual koran. Rasa penasaran ini membuatku memanggil kakek itu dan membeli korannya, berharap bisa sedikit berbincang dengannya.

Kakek tua itu adalah Ahmad Zubaedi, ia biasa dipanggil Ubed. Ia terlihat senang ketika aku membeli dua koran darinya. Ia tersenyum sambil menunjukan giginya yang tinggal sedikit. Ternyata tubuh kakek Ubed begitu kurus, bahkan kakinya begitu kecil. Selain sudah tua ia juga sudah pikun, Ia lupa bahwa aku sudah membayar korannya

bahkan ia tidak ingat tanggal lahirnya, yang ia ingat adalah umurnya yang sudah lebih dari setengah abad. Jika melihat rambut, gigi dan kulitnya yang keriput umurnya tamnpak sudah 80 tahun padahal ia baru berumur 55 tahun.

Masa kecil penuh bahagia

Malangnya nasib kek Ubed tidak ada yang tahu. Ubed kecil adalah pria keturunan ningrat. Ubed sekeluarga sudah tinggal di Bogor sejak lama. Saat Ubed memasuki sekolah dasar orang tua ubed cukup kaya, namun Ayahnya menikah lagi dan usahanya pun hancur. Keluarga turut berduka termasuk Ubed. Keluarga Ubed tidak mempunya apa-apa lagi, bahkan rumah mereka terpaksa harus di jual. Tidak lama ibunya yang sedih karena di “madu” meninggal dunia, Ubed merasa sangat sedih ia menjadi anak piatu. Ia dan adiknya pun dirawat oleh pamannya. Paman Ubed cukup keras, Ubed harus mengikuti semua aturannya. Paman Ubed menyekolahkannya sampai tingkat SMP. Saat itu namanya adalah Sekolah Agama. Walaupun ia Sekolah Agama, Ubed mengaku tidak mahir membaca Al qur’an. Ubed juga mengaku tidak sekolah dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya dimasa tuanya ia harus mernjadi penjual koran.

Ketika Ubed sudah besar Ubed menikah dengan seorang gadis yang dijodohkan oleh pamannya, ternyata pernikahannya hanya bertahan satu tahun dan tidak menghasilkan keturunan. Ubed mengaku tidak cinta dengan gadis itu. Setelah itu Ayah Ubed sakit, Ubed dan Adiknya merawat sang Ayah, namun usia Ayahnya tidak bertahan. Ayahnya pun meninggal dunia. Akhirnya Ubed lengkap menjadi anak yatim piatu. Ia memutuskan untuk bekerja keras agar ia dapat merawat keluarganya. Sayangnya setelah Ayahnya meninggal, Adik Ubed sakit. Tak lama Adiknya meninggal pula. tanpa Ibu, tanpa Ayah, tanpa Adik, tanpa Istri, dan tanpa Anak, Ubed hidup sebatang kara di Bogor. “Saya ingin sekali punya anak, karena jika saya tua nanti akan ada yang mengurus saya” Ubed merasa sedih ketika harus hidup sebatang kara, namun Ubed tak mengeluh. Ia bersabar dan tetap bekerja sampai akhirnya di umur 45 tahun ia bertemu dengan perawan tua di Cipayung. Ubed jatuh cinta dan menikahi perawan itu. Ia membawa serta istrinya tinggal di rumah kecilnya di Bogor.

Karier Ubed

Setelah lulus SMP Ubed bekerja sebagai penjual komik di stasiun Bogor, walaupun penghasilannya kurang mencukupi ia tetap bekerja agar tidak menyusahkan keluarganya. Ubed tidak ingin menjadi pengemis yang tidak berusaha bekerja sama sekali. Sampai di hari tuanya ia tetap bekerja menjadi penjual koran hingga. “Selagi saya masih mampu, saya tidak mau neng menyusahkan istri saya atau orang lain, tadinya istri saya jadi pembantu tapi saya larang karena saya kasihan sama dia”.

Setiap harinya Ubed berjalan mengelilingi jalan Lodaya sampai jambu 2 untuk berjualan koran. Ketika ditanyai kapan Ubed selesai berjualan ia hanya menjawab “sampai sehabisnya aja”. Bagaimana mungkin kaki yang sekecil dan setua itu harus berjalan setiap harinya? Ubed pasti merasa lelah dan bosan, tapi ia hanya tersenyum mendapati nasibnya. Yang ia tahu hanyalah berusaha agar mendapatkan pertolongan Tuhan.

Penghasilan Ubed perhari sekitar Rp.15,000 Ubed mengaku itu hanya cukup untuk makan ia dan istrinya. Terkadang sang istri marah-marah kepadanya karena harus hidup miskin. “Istri saya sering mengeluh dan menyesal menikah dengan saya. Saya banyak dosa sudah membawa susah Istri saya, ya tapi mau gimana lagi” Ujar Ubed dengan wajah tertunmduk. Terlihat dari binar matanya Ubed merasa sedih dan sedih itu amat mendalam, tapi ia tidak melanjutkannya kepalanya kembali tegak menatap jalan dengan tatapan kosong dan tersenyum kembali. “Tapi saya seneng-seneng aja hidup begini, yang penting kan saya bisa makan” Ujarnya kembali.

Kisah Ubed ini telah menginspirasi saya. Disaat ia jatuh miskin, tidak memliliki keluarga dan hidup sebatang kara Ubed tetap berusaha dan bekerja. Disaat ia jatuh miskin, disaat ia harus kehilangan Ibunya karena kesedihan yang mendalam, disaat  penyakit merenggut nyawa Ayah dan Adiknya, disaat ia menghabiskan hari tuanya dengan berjualan koran dan tanpa keturunan, Ubed tidak mengeluh dan tidak menyusahkan orang lain.

0 comments.

cerita inspirasi

Posted on September 16th, 2010 by afiati.syarifah10.
Categories: Academic.

Nama  :Afiati Syarifah

Nrp     :H34100069

Laskar  9

Ini adalah cerita inspirasiku yang terinspirasi dari orang lain untuk menginspirasi yang lainnya.

Semoga Anda terinspirasi 😉 (hahaha) oleh cerita  yang sangat sederhana ini.

Jujur, sempat shok berat waktu disuruh nulis cerita inspirasi. Dua lagi. Bingung banget apa yang bisa membuat saya menginspirasi dan terinspirasi. Jadi saya merenung sejenak (baca:melamun) sebelum akhirnya bertekad menyelesaikan tugas MPKMB ini. Saya sadar kalo banyaak banget yang bisa menjadi bahan inspirasi bagi saya, padahal hanya sebatas hal hal sepele.

Seperti waktu itu.

Saat itu aku dan temen sekamarku yang notabene-nya juga temen sekelasku, tapi hanya di kelas besar aja, balik kuliah langsung ke bara buat cari makanan buka puasa. Saat itu sudah jam lima sore. Setelah numpang shalat Ashar  di Al-Amin, kita menelusuri jalanan Bara untuk cari makan. Sambil nyelip sana sini, kita membeli makanan di beberapa tempat. Saat itu sedang turun hujan yang untungnya tidak terlalu deras. Saya curiga petir Bogor dapat membuat orang menjadi seperti kebakaran jenggot (walaupun sebenarnya ga punya jenggot) karena kebanyakan orang memesan makanannya dengan brutal. Sambil setengah mendorong orang lain agar berada di posisi paling dekat dengan Sang Pedagang, mereka berteriak “Bu, cepetan dong bungkusinnya”;  “Saya duluan, Bu. Udah daritadi nih nunggunya”; “Yaah Bu, kan udah saya bilang  jangan dicampur es. Aduuh gimana sih” “Bu, ayam bakar satu.  Eh, ga pake kecap. Apa? Iya iya, eh jangan yang itu. Aduh lama banget bu, maaf ya ga jadi aja deh”; dan lain-lain-lain-lainnya. Sepertinya dalam kasus ini istilah `Pembeli adalah Raja` sudah gak berlaku deh, soalnya disini kamilah yang mendewakan para Pedagang agar dapat dilayani paling pertama.

Kebrutalan itu masih terus berlanjut di jalan pulang menuju Asrama. Masing-masing sibuk melindungi diri dari hujan sambil menenteng makanan yang sudah dibeli. Belum tiba di Asrama, Adzan Maghrib berkumandang. Terpaksa kami harus membatalkan puasa kami di jalan. Dan tidak sedikit orang yang melakukannya dengan cara brutal. Ada yang sampai menumpahkan jusnya karena riweuh, ada yang maraton sambil makan gorengan, bahkan ada yang marah ditinggalin temennya karena keasyikan minum es palu butung, lalu dia teriak-teriak sambil mengancam memukul teman yang meninggalkannya itu dengan palu sampai kepalanya buntung. Oke yang itu gak bener, kenyataannya dia cuma ditinggalkan setengah meter didepan temannya

Dalam keadaan seperti ini, kebanyakan orang hanya mementingkan dirinya, fokus mereka melemah pada lingkungan  apalagi untuk hal remeh. Sudah menjadi kebiasaanku memerhatikan peringai orang lain, karena seringkali hal ini dapat menghiburku atau sekedar membuatku tersenyum. Perhatianku tak lepas dari seseorang yang membuang sampah bekas jus (ya kau tahu, tempat seperti gelas aqua tapi ukurannya lebih besar) ke jalan. Dalam hati aku bergumam “haha namanya juga orang lagi buru-buru, mana sempet mikir kalo sampah-yang-dibuang-sembarangan itu yang seharusnya bisa di recycle, merupakan cikal bakal terjadinya banjir. Kalo sampahnya itu bisa digenangi air terus dijadiin tempat tinggal sama nyamuk DBD. Lalu saat nyamuknya menyerang, dia menyalahkan si nyamuk karena telah memberinya penyakit DBD sementara si nyamuk menyalahkan dia karna telah memberinya tempat tinggal.” Ya itu hanya menjadi gumaman kecil dalam hati (sengaja, biar gak kedengeran sama orangnya)

Sudut pandang memaksaku melihat kearah seseorang yang tengah berlari menghampiri si gadis-pembuang-sampah-sembarangan. Eh, tunggu, dia tidak menghampiri si gadis-pembuang-sampah-sembarangan melainkan mengambil gelas bekas jus yang telah dibuang ke jalan. Dengan santainya dia mengambil sampah itu dan membawanya ke tempat dimana seharusnya ia diletakan (baca:tong sampah)

Asli, aku kagum melihatnya. Membuatku  merenung sejenak. Saat tadi  melihat seseorang membuang sampah dijalan, aku hanya berfikir tanpa bertindak. Sedangkan dia, berlari dan membuangnya ke tong sampah. Saat orang lain hanya berfikir tentang kepentingannya – mungkin mereka berfikir tentang: pengen cepat-cepat  tiba di asrama, gimana caranya makan es cendol  tanpa sendok karena sendoknya udah keburu jatuh, ngeluhin hujan yang gak berenti-berenti padahal ga bawa payung, atau apapun itu yang tidak memikirkan Siapa Buang Apa Dimana Bagaimana Caranya – dia memerhatikan lingkungan.

Kejadian yang berlangsung beberapa menit itu menjadi inspirasiku untuk tidak egois dengan diri sendiri, dan tetap memerhatikan lingkungan. Tindakan membuang sampah sembarangan itu sangat sederhana tapi berhasil membuat ku ingin menirunya. Tidak perlu penyuluhan-penyuluhan tentang dampak membuang sampah sembarangan untuk membuat orang tidak membuang sampah sembarangan. Karena cara pertama untuk menyampaikan  kebaikan adalah dengan berbuat baik. J

0 comments.